JANGAN MEMBUNUH, FENOMENA HUKUMAN MATI

Jangan Membunuh

Semua manusia memiliki hak untuk hidup

“Khotbah saya kali ini dengan tema “Perspektif Perintah Yesus terhadap Hukuman Mati”.

HUKUMAN MATI di Indonesia menjadi fenomenal, sebagai negara yang berdasarkan kepada PANCASILA, pada sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa”, seharusnya sudah jelas bahwa harus menolak hukuman mati dengan tegas. Tidak ada alasan apapun untuk mengizinkan manusia untuk membunuh. Sejarah para Nabi dan siapapun, tidak akan menjadi alat pembenaran terhadap alasan untuk membunuh.

Allah berfirman, jangan membunuh titik. Kata JANGAN MEMBUNUH adalah tertulis dalam hukum TAURAT, semua agama akan mentaatinya. Tidak ada kata kata keterangan yang menyertai kalimat itu misalnya ‘kecuali, …..’ sehingga ajaran agama dan polemik jihad sebagai alasan membunuh adalah melanggar FIRMAN ALLAH. 

Allah tidak menghendaki manusia ciptaanNYA saling membinasakan. Oleh karena itu Allah memberikan perintah yang merupakan hokum, dan tertulis sebagai Hukum Taurat ke VI dengan bunyi “Jangan Membunuh” (Keluaran 20 : 13).

Konsep pemikiran hukum ini adalah bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan, sehingga yang berhak atas hidupnya adalah Tuhan. Hukum ini juga bermakna bahwa manusia harus menghargai usaha memperjuangkan hidup/hak hidup.

Bacalah dengan sempurna dalam [Mat 5:21-22]. Sekarang saya bertanya manakah yang lebih mulia : “Bunuhlah musushmu atau kasihilah Musuhmu ?”. 

Oleh karena itu patutlah diragukan kalau ada agama yang mengajarkan membunuh demi nama NABI dan upahnya masuk surga. Anda adalah manusia yang berdarah dingin dimuka bumi ini jika masih saja berniat membunuh orang lain yang tidak sejalan dengan agama anda. Yesus mengajarkan “kasihilah musuhmu” bayangkan saja jika anda memberi tumpangan kepada mereka yang mengfitnah dan merancang kejahatan kepada anda.

Jika ada lembaga negara pada bangsa tertentu untuk melegitimsi hukuman mati, tentu itu tidak berasal dari perintah TUHAN. Jika Mahkamah Agung memberi hukuman mati, seharusnya terdakwa tidak dibunuh atau dimatikan dengan sadis dengan cara ditembak ditempat.

Saran saya : Mari berjuang untuk membuat bumi ini bersahabat dan meninggalkan ajaran konyol untuk saling membunuh orang yang berbeda dengan kita. Allah tidak bisa anda tipu, mengatakan “oh, sorry ya Allah, ini perintah NABI, aku harus mati jihad demi ALLAH”. ini perbuatan sangat hina dan konyol (perbuatan sia-sia). 

Apakah Yesus mengganti hukum Taurat dengan hukum kasih? Yesus berkata :

“Lebih mudah langit dan bumi lenyap dari pada satu titik dari hukum Taurat batal.”  Lukas: 16:17. ” … kasih adalah kegenapan hukum Taurat” Roma 13:10. Dasar dari hukum Taurat adalah kasih, hukum kasih dalam Matius 22 : 37-39 adalah intisari dari hukum Allah : “Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” Matius 22:40.

YESUS dicecar oleh orang-orang farisi agar memberi toleransi untuk hukum taurat, namun Yesus tidak berubah sama sekali.

Dialog Yesus tentang hukum taurat : Matius 19:18 “Kata orang itu kepada-Nya: “Perintah yang mana?” Kata Yesus: “Jangan membunuh, jangan berzinah, h  jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, ….”

  • Hukum yang pertama : Mengasihi Allah (Matius 22:37) ayat ini referensi dari Ulangan 6:5
  • Hukum yang kedua    : Mengasihi sesama (Matius 22:39) ayat ini referensi dari Imamat 19:18

Jika kita pro dengan hukuman mati karena alasan bahwa kita geram kepada si penjahat, dengan tujuan agar kejahatan tidak terulang lagi adalah subjectifitas pribadi kita. Kita telah berkompromi menghakimi dengan memuaskan nafsu kita sendiri. Tidak ada kasih dalam diri kita.

Penjabaran dari kasih terdapat dalam hukum-hukum Allah.  “Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintahNya. I Yohanes 5:3

Beberapa dialog tentang membalas dengan dalih hukum Musa mengajarkan demikian, bahwa mata ganti mata, gigi ganti gigi dan nyawa ganti nyawa. ALLAH yang bener tidak memberi perintah yang melanggar perintahNya sebelumnya. Kalau Allah sudah berkata jangan membunuh, masa ada perintah berikutnya kepada seorang NABI, ‘bolehlah kau membunuh demi agamamu, demi kepentingan politikmu …luar biasa, hati2 menganalisa hal ini, anda akan tertipu oleh nabi-nabi palsu. Jadi manusia adalah objek ALLAH untuk kemuliaan namaNya, bukan untuk kemuliaan manusia.

Markus 7: 7-8  “Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang kepada perintah manusia.”

Hukuman Mati, adalah perintah manusia, bukan kehendak ALLAH. Iman Kristen sangat tegas dalam menolakn hukuman mati, karena TUHAN YESUS mengajarkan arti sebuah wujud kasih yang sempurna yaitu “belas Kasihan” kepada mereka yang berdosa.

Matius 9:13
“Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

Para ahli Taurat dan orang Farisi menambahkan adat istiadat pada hukum Tuhan. Salah satu contoh adalah adanya aturan-aturan khusus untuk mencuci tangan dan mencuci perabot-perabot (Markus 7:3-4). Masih banyak hal-hal seperti ini mereka buat (ayat 13 b) dan mereka mempersalahkan orang yang tidak melakukannya. Yesus menyatakan bahwa makan dengan tidak mengikuti aturan-aturan tersebut tidak membuat makanan menjadi najis (ayat 14).

Contoh kedua adalah mereka mengesampingkan hukum Taurat mengenai penghormatan terhadap orang tua demi melaksanakan adat istiadat (Matius 15:3-6)

Dalam Matius 5:21-26, kita membaca:

 “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.’ Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! (atau, ‘Raca!’ dalam bahasa Ibrani) harus dihadapkan kepada Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! (atau, ‘Bebal!’) harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahan diatas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.

Dalam etika Kristen idealnya hukuman mati tidak dilakukan lagi karena Tuhanlah yang memberikan hidup dan yang berhak mencabut kehidupan.

YESUS telah menanggung hukuman mati, oleh karena itu “Kasih pengampunan Allah” yang melampaui segala akal dan pikiran dapat dijadikan barometer bagi pemerintah khususnya para penegak hukum untuk tidak menjatuhkan hukuman mati .

Dikaitkan dengan hukum, ilmu pidana modern lebih menekankan kepada rehabilitasi dari pada retribusi. Kalau penguasa membunuh manusia karena melakukan kesalahan, lalu siapa yang menghukum mati para penguasa ketika melakukan kesalahan. Mari Kita renungkan kembali.

Pdm Ir. Mustika Ranto Gulo, M.IKom

Iklan

Satu pemikiran pada “JANGAN MEMBUNUH, FENOMENA HUKUMAN MATI

  1. Hukuman Mati adalah kekejian di mata TUHAN, Hentikan pembantaian dan hentikan legitimasi terhadap hukuman mati itu.

    Markus 7: 7-8 “Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang kepada perintah manusia.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s