Teologi dan Kebudayaan

Kis 16:1-4, sebuah kisah ketika Paulus meminta agar Timotius disunatkan, sementara ayahnya orang Yunani dan ibunya seorang Yahudi. Keluarga dari pernikahan dua budaya yang berbeda, tetapi tetap konsisten pada budaya dan adat istiadat. Apa masalahnya ? Sebuah Study Kasus atas sikap Paulus yang tetap menghormati budaya Yahudi. Namun injil tetap disiarkan, bahkan sedang mempersiapkan Timotius untuk dikader dengan metode kilat.

Seharusnya budaya sang ayah yang dipertahankan, namun Paulus beralasan lain, demi tujuan penginjilan orang YAHUDI, dan memberi pemahaman kepada orang YUNANI bahwa Injil tidak terpisah dari perbuatan baik sekalipun itu adat istiadat. 

Kis 16:1-4
16:1. Paulus datang juga ke Derbe dan ke Listra. Di situ ada seorang murid bernama Timotius; ibunya adalah seorang Yahudi dan telah menjadi percaya, sedangkan ayahnya seorang Yunani.
16:2 Timotius ini dikenal baik oleh saudara-saudara di Listra dan di Ikonium,
16:3 dan Paulus mau, supaya dia menyertainya dalam perjalanan. Paulus menyuruh menyunatkan dia karena orang-orang Yahudi di daerah itu, sebab setiap orang tahu bahwa bapanya adalah orang Yunani.
16:4 Dalam perjalanan keliling dari kota ke kota Paulus dan Silas menyampaikan keputusan-keputusan yang diambil para rasul dan para penatua di Yerusalem dengan pesan, supaya jemaat-jemaat menurutinya.

Tidak lama berselang Timotius ditahbiskan mengembalakan jemaat, menjadi orang yang menjadi kepercayaan Paulus. Disisi lain, Budaya Yahudi mengenai “sunat” menurut Paulus tidaklah penting. Namun, budaya adalah media penginjilan yang paling efektif untuk kondisi di daerah Derbe saat itu.

Budaya etnis dan suku-suku bangsa di seluruh dunia, bisa menjadi tantangan berat dalam memberitakan injil, namun sikap PAULUS pada kisah di atas sangatlah bijaksana menggunakan budaya itu sebagai media yang paling efektif.

Kita dapat mengambil makna :

1. Kebudayaan sebagai karya manusia dalam memenuhi kebutuhannya (Man – Made), bertolak dari Sabda Allah berupa Mandat Kebuyaan.

2. Allah Menyatakan DiriNya dan mengkomunikasikan kehendakNya kepada manusia dalam konteks budaya manusia secara utuh. Baik ketika belu, jatuh dalam dosa, maupun setelah manusia menyadari dirinya berdosa dihadpan Tuhan.

3. Keberagaman suku bangsa, juga membawa keberagaman dalam kebudayaan, baik menyangkut bentuk, arti, fungsi dan nilai-nilainya bagi kelompok masyarakat pemilik budaya itu sendiri.

___

Inspirasi dari Mata Kuliah “Teologia & Kebudayaan” Oleh Pdt. Sochiwolo’o Ndruru, MTh, DTh.


Iklan

Satu pemikiran pada “Teologi dan Kebudayaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s