BISNIS DAN PELAYANAN

BISNIS SAMBIL MELAYANI

Tidak perlu dipertentangkan bisnis dengan pelayanan, yang menjadi masalah adalah “OKNUM” yang membisniskan Pelayanan. Disana ada ego yang mementingkan diri sendiri. Hati-Hati, sebab TUHAN melihat setiap MOTIVASI kita dalam melakukan pelayanan. Apa Tanggapan Anda? Yang tidak bekerja, hendaklah ia jangan makan!

Iklan

10 pemikiran pada “BISNIS DAN PELAYANAN

  1. sebagai hamba Tuhan tidak menjadi masalah untuk bisnes kerana Tuhan sudah berikan peluang untuk itu. Melalui bisnes secara tidak langsung kita dapat membantu pekerjaan Tuhan dari segi kewangan dan sebagainya…!!

  2. setuju dengan paham bapak. kita sebagai hamba Tuhan jangan membebani jemaat. uji dan tunjukkan bahwa Tuhan memberkati hamba Tuhan yang bekerja keras, yang penting harus dengan motivasi yang benar di hadapan Allah.

  3. Bisnis sambil pelayanan? why not.

    Bukankah Rasul Paulus adalah seorang pemberita Injil yang sukses bukan hanya dalam hal teologia tapi juga bisnis.

    Lebih baik kita kembali ke motivasi hati kita, dan juga back to Bible.

    Justru ketika kita bisa mempunyai talenta bisnis dan juga punya untuk melayani Tuhan, maka Tuhan pasti akan semakin memperlengkapi talenta yang Ia berikan buat kita asalkan itu untuk memuliakan namaNya.

    Bukan begitu Pa moderator

  4. Saya tergerak menulis di sini karena judulnya bagus.
    Saya lihat ada kesalahan pahaman. Saya berharap pada mulanya bahwa menjadi penginjil itu tidak perlu bekerja mencari uang seperti org dunia. Namun, setelah terjun di pedesaan, saya dihadapkan dengan dua pilihan, melayani terus atau bekerja di sekuler agar bia menikah dan menghdpkan keluarga.

    Setelah di kota, saya lihat bahwa penginjilan tidak segencar di desa, karena hiru pikukna kehidupan. Hamba Tuhan hanya berharap dari pemberian sembahan jemaat, saya pikir ini juga salah.

    Trend sekarang, hamba Tuhan dimana-mana memiliki bsnis yang hebat, Tuhan memakai Uang mereka untuk kemuliaan Tuhan. Banyak bisnismen yang menjadi hamba Tuhan dan mereka semakin dipakai Tuhan.

    Sekarag untuk sementara saya simpulkan, kita harus menghasilkan dan jgn menjadi beban jemaat, misalnya bertani bersama-sama dgn meeka di desa, atau berdagang atau apapun ang sesuai dgn talenta.

    Salam
    Jauhari S (Pekan Baru)

  5. Menarik sekali isu yang dilontarkan oleh moderator. Kebetulan hal ini menjadi pergumulan saya pribadi. Saat ini saya tidak melayani di gereja seperti hamba Tuhan pada umumnya. Saya sempat pelayanan di parachruch dan akhirnya saya membuka usaha dengan tetap melayani (bukan “sambil”).
    Menurut hemat saya, setelah menjalani bisnis dan pelayanan, yang sangat diperlukan adalah Visi yang diberikan Kristus kepada kita pribadi. Ada begitu banyak hamba Tuhan dan aktivis gereja yang melayani tanpa visi. Begitu juga dengan para pengusaha yang berbisnis tanpa Visi dari Kristus sehingga setiap usahanya melakukan kecurangan.
    Visi dari Kristus menggerakkan saya untuk berbisnis dengan motivasi melayani. Seringkali ketika saya melayani pelanggan dibutuhkan kerendahan hati, berbaik hati, mau mendengar, dll. Yang karakter ini didapatkan dalam pelayanan dan dibutuhkan dalam dunia bisnis.
    Tidak bisa kita pungkiri pelayanan membutuhkan dana. Mungkin paradigma berbisnis di Indonesia memang sangat jelek. Namun hal itu bisa berubah jika kita melakukan bisnis dengan takut akan Tuhan.
    Jika anda akan berbisnis, biak hamba Tuhan maupun tidak, sangatlah saya sarankan untuk memiliki Visi dari Kristus sehingga jalan bisnis anda tetap di jalur Tuhan.
    Memang saya akui tidak gampang dan penuh dengan tantangan. Namun jangan khawatir ada Kristus beserta kita.
    Kristus tidak pernah menjanjikan memidahkan gunung terjal tetapi Dia memastikan beserta kita untuk melewatinya.

  6. Pilih mana ada 2 jenis sikap?

    Orang pesimis melihat kesulitan dalam setiap kesempatan, orang optimis melihat kesempatan dalam setiap kesulitan adalah ungkapan bijak penuh motivasi. Perlu dan penting untuk dihayati maknanya. Dalam Alkitab kita mendapat tokoh iman seperti Abraham, Yusuf, Musa, Daniel, Daud, Yesus. dari mereka kita belajar karakter yang unik tentang bagaimana mereka menghadapi kehidupan. Tokoh2 ini teruji mengalami kesulitan. Bagi Abraham sebelum mendapat janji Allah diuji dengan waktu. Bagi Yusuf sebelum tergenapi mimpinya dia melalui hari2 kelam dari pembuangan di lobang, hingga dijobloskan ke penjara. Yusuf melihat kesempatan besar untuk layak menerima kepatutan yang Allah tetapkan bagi Dia. Bagi Daniel mengalami ancaman pembinasaan hingga dimasukkan ke kandang singa lapar. Dia berkesempatan menyaksikan kebesaran Allah.

    Kesulitan dapat saja membuat sesorang untuk menyerah, namun Yesus tidak menyerah kepada kesulitan, tetapi Dia menyerah secara total kepada Allah. Penyerahan yang utuh kepada Allah menjadi sumber kekuatan spektakuler yang berujung kemenangan dan kesempatan yang ajaib.

    pilih mana? Pesimis dan membiarkan kesempatan berlalu? atau optimis bahwa benar ada kesulitan namun dibalik itu ada kesempatan?

    Salam

  7. ORA ET LABORA

    Ketika aku masih kecil, Ayah saya memberi nasihat kepada saya “Sekali Berhenti Berarti Mati”. Aku renungkan hal ini bertahun-tahun. Aku bertanya kepada beliau, kenapa kita harus kerja terus siang dan malam, kerja dan kerja. Perjuangan tidak pernah berhenti, capek sekali rasanya. Demikianlah jawabannya pada saya begitu indah kurasakan kini. Jangan berhenti, itu arti yang kudapati sekarang. Harus estafet terus-menerus, kelelahan adalah karena fisik kita butuh istirahat, bukan berarti tidak berhenti secara fisik. Tetapi berhenti secara Mental, ROH dan Jiwa, itu berarti mati.
    Bekerja dan melayani satu kehidupan yang tidak dapat dipisahkan. Full Timer pun bekerja, bedanya merka full dalam gereja sedangkan saya full di luar gereja.
    Tidak malasah bekerja sambil melayani. “ORA ET LABORA”, berdoa dan bekerja. Dalam pelayanan sayapun, saya harus utamakan hal-hal yang penting, kemudian urusan lain.
    Salam untuk semua, Tuhan memberkati.

  8. Abi Menulis, Menanggapi Tulisan Pak Basri Lanjung
    Pa Moderator, saya kira pemikiran pa Lanjung itu patut untuk direnungkan, bahwa sebagai hamba Tuhan pada prinsipnya tidak ada larangan untuk berbisnis. Saya memiliki pandangan yang tidak berbeda dengan pa Lanjung, bahwa di dunia ini tidak ada wilayah sakral dan non sakral. Dunia pada hakekatnya sudah hancur, kehadiran anak-anak TUhan dan Pelayan2 yang memiliki hubungan yang baik kepad Dia, menjadi instrumen perobahan atas dunia kerja dimanapun kita berada. Hanya saja pa Lanjung, berkata bahwa dunia bisnis identik kotor, Saya berpkir sintesis bahwa bukan masalah kotor atau bersih, namun bagaimana sikap kita selaku pelayan Tuhan mampu membawa napas pembaharuan terhadap wilayah kerja dimanapun seorang hamba Tuhan tertentu berkarya. Thanks

  9. BISNIS SAMBIL MELAYANI

    Pilihan judul ini membuat saya tidak bisa tidur nyenyak. sebab judulnya saya bisa balik begini “MELAYANI SAMBIL BISNIS”. Tentu maksud moderator pasti bukan demikian. Saya merasa bahwa kenyataan memang sudah demikian pelik, terjadi bagi hamba-hamba Tuhan di berbagai denominasi. Pendeta yang berasal dari latarbelakang bisnisman, sangat banyak dan topik ini sangat cocok untuk mereka, itu sangat dibenarkan. Tetapi bagaimana dengan mereka yang benar-benar berasal dari sekolah pendeta (Theologia), kemudian terjun dalam pelayanan dibawah organisasi gereja lokal dan digaji. Apakah mungkin, jika mereka “bekerja sambilan” untuk menutup devisit kebutuhan keluarga setiap bulan serta harus menyekolahkan anak-anaknya? Apa memungkinkan sorang Profesi Pendeta terjun dalam dunia sekuler, dengan membuat usaha sambil melayani TUHAN? Bagaimana pendapat jemaatnya ? Menurut saya pasti sang pendeta sering dihakimi oleh jemaat, karena dunia usaha dipandang awal dari mencintai uang, apalagi bisnis dilingkungan kita sangat curang dan tidak suci. Bagaimana seorang pendeta bisa melakukan itu ? (saya tidak bisa tidur nyenyak).

    Saya sangat bangga karena saya lihat di salah satu denominasi tertentu pendetanya bukanlah orang-orang yang pernah duduk dibangku kuliah theologi sebelumnya. Bahkan mereka diberi jenjang kependetaan (jenjang pemula, sampai ke jenjang pendeta senior). Justru perkembangan Gereja ini sangat luar biasa, apalagi di JAWA. Saya sangat terkagum-kagum dan saya berkata dalam hati, “HAL INI YANG KEHENDAKI TUHAN”, semua orang diberi peluang untuk melayaniNya sesuai Amanat Agung Tuhan Yesus. Tetapi jangan setuju dulu dengan saya, ada beberapa alasan saya:
    1. Penginjilan sekarang, membutuhkan orang-orang yang punya hati mengasihi jiwa-jiwa. Ini adalah panggilan Tuhan bukan panggilan secara organisasi gereja. Maksud saya, jika anda dibentuk dari awal, mulai dari sekolah kependetaan (beasiswa theologia) sampai menjadi calon Pendeta, dan menjadi pendeta di salah satu denominasi sponsor anda, apakah anda yakin itu panggilan kerja atau panggilan TUHAN?

    2. Penginjilan butuh donasi, apakah anda benar-benar mengandalkan “Perpuluhan Jemaat di Gereja Anda” untuk mendanai operasional penginjilan anda. Saya katakan ini bukan berarti mengukur kuasa TUHAN MAHA KAYA itu. Iman saya mengatakan IA adalah YEHOWA JIREH, yang menyediakan apapun bagi umatNya. Kita persamakan persepsi bahwa TUHAN memakai orang-orang tertentu untuk menjadi DONATUR pelayanan kita. Jadi, mereka inilah yang dimaksud oleh Moderator “BISNIS SAMBIL MELAYANI”. Mereka bekerja dan sebagian hasil pendapatan mereka menjadi donasi bagi pelayanan di gereja. Hal ini terjadi di Eropa sejak abad pertengahan, ratusan organisasi swadaya masyarakat mendanai penginjilan ke seluruh dunia. Dan ini berasal dari PENGUSHA yang melayani Tuhan, mereka juga disebut anak-anak TUHAN, mereka kumpulkan sedikit demi sedikit persembahannya dan mendanai penginjilan.

    3. Jangan salah artikan judul ini, bisa saja menjadi debatis bagi kita semua. Semoga Mederator memberi peluang untuk menyampaikan pikiran saya. Latarbelakang pemikiran dan alasan theologis akan menjadi sumber “debatis”. Lihat, sekalipun Paulus dalam pelayanannya masih memintal TALI SAUH lalu dijual untuk kebutuhan hidupnya, namun hal ini berbeda dengan penafsiran atas pilihan TUHAN kepada “KAUM LEWI” dalam perjanjian lama. Mereka tidak bekerja dan berbisnis, tetapi hanya melayani umat (suku lain bangsa israel) atau jemaat dalam acara ritual untuk berakti kepada TUHAN di dalam sinagoge.

    Kesimpulan dari saya, semga tidak menyalahi maksud saudara Moderator, adalah “ORA ET LABORA” berlaku kepada semua orang. Baik Pendeta maupun Jemaat, tanpa terkecuali. Berusahalah dan Tuhan pasti memberkati, sebab Tuhan tidak menghendaki namaNya dihina karena anak-anak TUHAN berkekurangan, karena kemalasan.
    TUHAN YESUS ITU ADALAH YEHOWA JIREH, apapun kegiatan anda saat ini, baik dalam pekerjaan penginjilan maupun sekuler, Tuhan memberkati setiap usaha anda.

    Amin
    Basri Lanjung, STh
    MAKASAR MISSIONTRIP

    • Saya senang membaca topik ini..sy banyak mendapatkan aneka pemahaman yg intinya bisa bisnis dan bisa melayani.kebetulan sekali sy juga sdg diminta utk menyampaikan topik ini dlm konggregasi alumnus stt . menurut pendapat sy pribadi..orang kita sudah termakan oleh kecenderungan beepikir dualisme..dikotomi..paradox dsb trrhadap persoalan apa saja termasuk persoalan gereja.bahwa terjadi benturan bukan tanpa sebab..memang jalan pikiran orang kita dilatih trrus menerus seperti demikian oleh pemangku kepentingan termasuk dlm tataran persoalan gerejawi.kita tdk pernah mengkaji mengapa bisnis dan pelayanan menjadi sesuatu paradoxial yg mau gak mau harus dikaji.ini karena sdh terlanjul muncul..padahal yg sebenarnya adalah pelayanan tok..pelayanan gereja.tanpa harus diadu dg bgmn klo sekaligus bisnis.sebab ini persoalan visi..bukan persoalan ethica.memang benar klo ada pendeta yg nyambi jadi pemborong lantas karena hrs dikejar progres lalu kemudian mengorbankan hari minggu dan dia gak datang tetus digantikan anaknya atau siapa saja yg penting ada kebaktian demi mengejar progres..maka jawababnya ini jelas keliru..itu tdk perlu dibahas karena tdk membutuhkan alasan..karenanya persoalan visi..namun kemudian yg terjadi bagaiamana klo dia tetap khotbah di gereja tp pikiranya terus ada di pekerjaan..apa gereja bs mencukupi.lebih baik mana di pekerjaan tp hatinya untuk Tuhan atau di gereja tp hatinya untuk pekerjaan..keduanya tetap juga keliru..inilah yg menimbulkan dualisme..pendeta dan kaumnya ketua sinode jg tdk pernah memberikan arah yg jelas..soal visi.karena visi pasti beetindak secara peoporsional..dinegara lain pendeta dicukupi oleh konggregasinya..bahkan konggregasi pertama yaitu kaum lewi juga ditetapkan secara khusus oleh Tuhan untuk melayani khusus dirumah Tuhan dengan didukung secara ekonomi oleh semua suku suku yg lain.maka bersyukurlah pendeta gereja di indonesia dikasih oleh Tuhan sebuah persoalan yg kasuistik yg tdk sama dg kaum lewi ataupun konggregasi di negara maju.pendeta indonesia terbiasa dg tata cara berpikir bagaikan kaum lewi ataupun kuliah padat dari misionari yg tdk memahami sistem keuangan para pendeta indonesia.Gereja kita sangat unik..harus memikirkan bagaimana persis melayani sepwnuh waktu seperti mereka..tetapi juga sepenuh waktu melayani ekonomi keluarganya..lihat di indonesia berapa honor dari sinode..atau besarnya persembahan..sanagt jauh dari standart hidup..oleh karena itu tidak ada salahnya ketika pendeta hidup sepenuh waktu utk Tuhan baik full time maupun tidak untuk tetap terkanalisasi hidup dlm visi melayani..pendeta harus jujur sejujurnya untuk tdk menyembunyikan visi ini..sebab jika mulai trrgoda akan jatuh dalam motif yg salah..inilah yg sering menjadi dualisme.bahwa tidak perlu ada dulisme jika pendeta atau hamba Tuhan hidup dalam kejujuran dan kerendahan hati dalam visi amanat agung.belajar secara sungguh kisah paulus..maka tidak akan terjadi rupa rupa tipu muslihat..melayani Tuhan digereja besar..harta banyak..mobil mewah..ini jelas ada inkonsistensi…semoga bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s